Perbedaan Margarin dan Mentega: Mana yang Lebih Sehat?

perbedaan margarin dan mentega

Tidak banyak orang tahu soal perbedaan margarin dan mentega. Dua bahan yang sering jadi pelengkap makanan sehari-hari ini sama-sama memberikan tekstur dan cita rasa yang unik. Sekali pun demikian, bahan baku margarin dan mentega sama sekali berbeda.

Karena bahan baku yang berbeda, kandungan di dalam margarin dan mentega pun berbeda. Pada akhirnya mempengaruhi kesehatan kita secara berbeda pula.

Perbedaan Margarin dan Mentega

Orang Indonesia sering kali keliru mengartikan margarin sebagai mentega, begitu juga sebaliknya. Mentega atau butter terbuat dari krim atau lemak susu dengan memanfaatkan proses yang disebut “churning”.

Proses ini dilakukan dengan cara mengaduk susu dengan kecepatan tinggi hingga bagian lemak dan air terpisah.

Lemak yang menggumpal inilah yang kita sebut sebagai mentega. Sama seperti jenis lemak hewani lainnya, mentega yang terbuat dari susu ini mengandung lemak jenuh yang cukup tinggi, sehingga konsumsinya harus dibatasi.

Margarin di sisi lain terbuat dari kombinasi berbagai minyak nabati seperti minyak kedelai, kelapa sawit, dan inti sawit yang dicampur dengan air dan garam. Untuk meningkatkan umur simpannya, campuran minyak nabati tersebut “dikeraskan” melalui proses yang disebut hidrogenasi.

Jika hanya dilihat dari bahannya, margarin bisa dianggap sebagai alternatif yang lebih baik daripada mentega. Ini karena margarin terbuat dari minyak nabati yang mengandung lemak tak jenuh ganda (polyunsaturated fat) yang dapat menurunkan kolesterol jahat LDL. Mari kita periksa lebih jauh.

perbedaan margarin dan mentega

Jadi, Apakah Margarin Lebih Sehat dari Mentega?

Walaupun memiliki lemak jenuh yang lebih sedikit, proses hidrogenasi yang membuat margarin menjadi padat di suhu ruang ini menghasilkan produk samping berupa lemak trans. Lemak trans sendiri adalah lemak tak jenuh yang berubah struktur kimianya karena penambahan hidrogen.

Lemak trans lebih berbahaya daripada lemak jenuh. Tidak hanya meningkatkan kolesterol jahat LDL, lemak trans juga menurunkan jumlah kolesterol baik HDL. Jika dibiarkan, kondisi ini akan membuat kolesterol menumpuk dalam tubuh dan menyumbat pembuluh darah kita. Jadi anggapan bahwa margarin lebih sehat dari mentega bisa jadi keliru.

Margarin juga mengandung lemak tak jenuh, omega-6. Omega-6 adalah lemak baik yang kita butuhkan dan berperan dalam menjaga kesehatan jantung. Namun, konsumsi omega-6 ini harus diimbangi juga dengan omega-3 yang banyak terkandung di berbagai macam ikan dan biji-bijian.

Rasio omega-6 yang lebih tinggi dari omega-3 malah justru bisa jadi bumerang bagi kita. Ini karena omega-6 yang berlebihan bisa meningkatkan tekanan darah, risiko serangan jantung, dan stroke.

Mana yang Lebih Baik Antara Margarin dan Mentega?

Sampai sini kita telah tahu bahwa kedua produk memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Pada akhirnya, semua kembali ke kita sebagai konsumen untuk bijak memilih produk yang sesuai untuk kita.

Apabila kita lebih menyukai margarin karena tekstur dan rasanya, pilihlah margarin yang mengandung lebih sedikit lemak trans.

Untungnya saat ini Kementerian Kesehatan RI telah menetapkan peraturan untuk mencantumkan kandungan lemak jenuh dan lemak trans di informasi nilai gizi setiap produk pangan. Ini bisa memudahkan kita untuk memilih margarin atau mentega mana yang lebih sehat untuk kita.

Jika ingin lebih sehat lagi, lebih baik hindari keduanya dan gunakan minyak “cair” seperti minyak zaitun, minyak kanola, atau minyak safflower. Tapi jika kita menyukai rasa khas dari margarin dan mentega, tidak ada salahnya mengonsumsi sekali-kali, asalkan tetap dibatasi jumlahnya.

Saat menggunakan margarin, mentega atau minyak, tetap periksa kandungan kalorinya. Perhatikan juga kandungan kalori bahan makanan lainnya yang kita makan dengan mudah menggunakan aplikasi GGL agar asupan kalori harian kita tetap terjaga.

Dengan mengetahui perbedaan margarin dan mentega tadi juga makin membantu. Kita jadi semakin tahu dampaknya pada kesehatan. Jangan sampai informasi ini berhenti di kita, ya! Share artikel ini ke orang-orang terdekat kita supaya mereka juga bisa lebih cermat dalam memilih margarin atau mentega yang akan dikonsumsi.

0

Share
GGL
© 2024 GGL